Tampilkan postingan dengan label pesan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2010

6 Mitos Pernikahan

Seminggu lagi adalah tanggal pernikahan Anda. Siapa sih yang tak deg-degan saat akan menikah. Ah terbayang cantiknya Anda dibalut gaun pengantin dan riuh ramai pesta nantinya. Sepanjang upacara dan resepsi, mungkin beberapa butir air mata menetes, namun terlebih kebahagiaanlah yang akan mengisi setiap detik momen indah tersebut.

Hmmm...diam-diam terus tanpa aktivitas membuat Anda kangen juga rasanya, si dia kira-kira sedang apa ya. Ah iya lebih baik memberinya kejutan dengan membawakan si dia kue kesukaannya. Namun tiba-tiba langkah Anda terhenti, seketika ibu Anda menghadang jalan Anda. "Kata nenek, calon pengantin harus dipingit dan tak boleh bertemu calon suami, jika dilanggar pernikahannya akan terancam," kemudian meluncurlah beberapa cerita nenek lainnya.

Wah gagal deh memberi kejutan pada pujaan hati Anda. Hmm ngomong-ngomong soal mitos pernikahan, apa saja sih mitos yang konon katanya tidak boleh dilakukan saat akan menikah?

1. Mutiara

Benda yang satu ini dilarang ada di dalam pesta pernikahan, termasuk di gaun Anda lho! Karena mutiara dipercaya sebagai simbol air mata. Jadi jika Anda mengenakan mutiara saat menikah, maka pernikahan Anda tidak akan bahagia dan diwarnai dengan air mata kesedihan.
2. Air mata

Jika sekarang Anda menangis, maka Anda dikatakan cengeng. Namun jika Anda menangis di upacara pernikahan Anda, maka rejeki besar menanti Anda. Bagaikan ladang gersang yang mendambakan air, sebelum menjadi subur, ia harus diairi terlebih dahulu. Yah begitulah konon katanya.

3. Hujan

Konon kata jika hujan turun pada hari pernikahan, maka rumah tangga si mempelai akan diwarnai duka dan kesedihan. Hmmm...kira-kira bagaimana jika memang tanggal pernikahannya di tengah musim penghujan ya?

4. Menjatuhkan cincin pernikahan

Ada kalanya kegugupan si mempelai membuat cincin yang akan disematkannya jatuh dari tangannya. Nah kata nenek moyang dahulu, jika cincin yang akan disematkan jatuh, maka pernikahan akan diwarnai dengan perselingkuhan dan kebohongan.

5. Menemui si calon mempelai

Kedua mempelai akan benar-benar dipingit dan tidak diijinkan bertemu satu sama lain. Pertanda buruk dan menjauhkan mempelai dari keberuntungan katanya!

6. Masuk ke ruang pernikahan

Adalah suatu hal yang akan mendatangkan rejeki jika Anda melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu saat memasuki gedung pernikahan.

Nah, apakah Anda percaya semua mitos itu?

Senin, 08 Februari 2010

Kata-Kata Bijak bagi Sebagian Orang

 

Ini dia Kata-kata bijak versi sebagian orang:
1. Uang bukan segalanya ……….. masih ada Mastercard & Visa.
2. Kita seharusnya menyukai binatang ……….. mereka rasanya lezat.
3. Hematlah air ……… mandilah berdua di bawah shower bersama kekasih.
4. Di belakang setiap pria sukses ada seorang wanita hebat …… di belakang setiap pria yg tdk sukses ada 2 wanita.
5. Cintailah tetangga …….. memang rumput tetangga lebih hijau.
6. Orang bijaksana tidak menikah …….. setelah menikah mereka menjadi bijak sana & bijak sini.
7. Cinta itu photogenic ……. dia memerlukan tempat gelap untuk berkembang.
8. Pakaian itu adalah pagar pelindung …… pagar harusnya hanya melindungi bukan menghalangi pemandangan yang indah.
9. Semakin banyak belajar, semakin banyak yang kita tahu ……. semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak yang kita lupa …… semakin banyak yang kita lupa, semakin sedikit yang kita tahu …… jadi kenapa kita sibuk belajar?
10. Masa depan tergantung pada impian kamu ……. maka pergilah tidur saja sekarang

Kamis, 04 Februari 2010

Akankah kita merayakannya?

14 Februari, adalah tanggal yang telah lekat dengan kehidupan muda-mudi kita. Hari yang lazim disebut Valentine Day ini, konon adalah momen berbagi, mencurahkan segenap kasih sayang kepada “pasangan”-nya masing-masing dengan memberi hadiah berupa coklat, patung, mawar, dan lainnya. Seakan tak terkecuali, remaja Islam pun turut larut dalam ritus tahunan ini, meski tak pernah tahu bagaimana akar sejarah perayaan ini bermula.

Sesungguhnya Allah Subahanahu wa Ta'ala telah memilih Islam sebagai agama bagi kita, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
Allah Subahanahu wa Ta'ala juga menyatakan bahwa Dia tidak menerima dari seorang pun agama selain Islam. Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman:


وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:


وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorangpun yang mendengar tentang aku, baik dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.”
Semua agama yang ada di masa ini –selain Islam– adalah agama yang batil. Tidak bisa menjadi (jalan) pendekatan kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala. Bahkan bagi seorang hamba, agama-agama itu tidaklah menambah kecuali kejauhan dari-Nya, sesuai dengan kesesatan yang ada padanya.
Telah lama, tersebar suatu fenomena –yang menyedihkan– di kalangan banyak pemuda-pemudi Islam. Fenomena ini merupakan bentuk nyata sikap taqlid (mengikut tanpa pengetahuan) terhadap kaum Nasrani, yaitu Hari Kasih Sayang (Valentine Day). Berikut ini secara ringkas akan dipaparkan asal-muasal perayaan tersebut, perkembangannya, tujuan serta bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapinya.

Asal Muasal Hari Valentine ni??
Perayaan ini termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan ini merupakan ungkapan –dalam agama paganis Romawi– kecintaan terhadap sembahan mereka.


Perayaan ini memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus –pendiri kota Roma– disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran.

Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.

Apa Hubungan St. Valentine dengan Perayaan Ini?
Versi I: Disebutkan bahwa St. Valentine adalah seorang yang mati di Roma ketika disiksa oleh Kaisar Claudius sekitar tahun 296 M. Di tempat terbunuhnya di Roma, dibangun sebuah gereja pada tahun 350 M untuk mengenangnya.
Ketika bangsa Romawi memeluk Nasrani, mereka tetap memperingati Hari Kasih Sayang. Hanya saja mereka mengubahnya dari makna kecintaan kepada sesembahan mereka, kepada pemahaman lain yang mereka istilahkan sebagai martir kasih sayang, yakni St. Valentine, sang penyeru kasih sayang dan perdamaian, yang –menurut mereka– mati syahid pada jalan itu.


Di antara aqidah batil mereka pada hari tersebut, dituliskan nama-nama pemudi yang memasuki usia nikah pada selembar kertas kecil, lalu diletakkan pada talam di atas almari buku. Lalu diundanglah para pemuda yang ingin menikah untuk mengambil salah satu kertas itu. Kemudian sang pemuda akan menemani si wanita pemilik nama yang tertulis di kertas (yang diambilnya) selama setahun. Keduanya saling menguji perilaku masing-masing, baru kemudian mereka menikah. Bila tidak cocok, mereka mengulangi hal yang serupa tahun mendatang.
Para cendiakawan agama Nasrani menentang sikap memtaqlid ini, dan menganggapnya sebagai perosak akhlak para pemuda dan pemudi. Maka perayaan ini pun dilarang di Italia. Dan tidak diketahui bilakah perayaan ini dihidupkan kembali.
Versi II: Bangsa Romawi di masa paganis dahulu merayakan sebuah hari raya yang disebut hari raya Lupercalia1. Ini adalah hari raya yang sama seperti pada kisah versi I di atas. Pada hari itu, mereka mempersembahkan qurban bagi sesembahan mereka selain Allah Subahanahu wa Ta'ala. Mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu mampu menjaga mereka dari keburukan dan menjaga binatang gembalaan mereka dari serigala.
Ketika bangsa Romawi memeluk agama Nasrani, dan Kaisar Claudius II berkuasa pada abad ketiga, dia melarang tentaranya menikah. Karena menikah akan menyibukkan mereka dari peperangan yang mereka jalani. Maka St. Valentine menentang peraturan ini, dan dia menikahkan tentara secara diam-diam. Lalu Kaisar mengetahuinya dan memenjarakannya, sebelum kemudian dia dihukum mati.
Versi III: Kaisar Claudius II adalah penyembah berhala, sedangkan Valentine adalah penyeru agama Nasrani. Sang Kaisar berusaha mengeluarkannya dari agama Nasrani dan mengembalikannya kepada agama paganis Romawi. Namun Valentine tetap teguh memeluk agama Nasrani, dan dia dibunuh karenanya pada 14 Februari 270 M, malam hari raya paganis Romawi: Lupercalia.
Ketika bangsa Romawi memeluk Nasrani, mereka tetap melakukan perayaan paganis Lupercalia, hanya saja mereka mengaitkannya dengan hari terbunuhnya Valentine untuk mengenangnya.

Tujuan Perayaan Hari Kasih Sayang
1. Menampakkan kegembiraan dan kesenangan di antara pasangan.
2. Saling memberi mawar merah, sebagai ungkapan cinta, yang dalam budaya Romawi paganis merupakan bentuk cinta kepada sesembahan kepada selain Allah Subahanahu wa Ta'ala.
3. Menyebarkan kad ucapan selamat hari raya tersebut. Pada sebagiannya terdapat gambar Cupid, seorang anak kecil dengan dua sayap membawa busur dan panah. Cupid adalah dewa cinta erotis dalam mitologi Romawi paganis. Maha Tinggi Allah dari kedustaan dan kesyirikan mereka dengan ketinggian yang besar.
4. Saling memberi ucapan kasih sayang, rindu, dan cinta dalam kad ucapan yang saling mereka kirimi.
5. Di banyak negeri Nasrani diadakan perayaan pada siang hari, dilanjutkan berhibur sambil berdansa, bercampur baur lelaki dan perempuan.


Beberapa versi kisah yang disebutkan seputar perayaan ini dan simbolnya, St. Valentine, bisa memberikan pencerahan kepada orang berakal. Terlebih lagi seorang muslim yang mentauhidkan Allah Subahanahu wa Ta'ala. Pemaparan di atas menjelaskan hakikat perayaan ini kepada kaum muslimin yang tidak tahu dan tertipu, kemudian ikut merayakannya. Mereka hakikatnya meniru umat Nasrani yang sesat, dan mengambil segala yang datang dari Barat, Nasrani, lagi atheis.

Renung-renungkan lah....
Barangsiapa yang membaca kisah yang telah disebutkan seputar perayaan paganis ini, akan jelas baginya hal-hal berikut:
1. Asalnya adalah aqidah paganis (penyembahan berhala) kaum Romawi, untuk mengungkapkan rasa cinta kepada berhala yang mereka ibadahi selain Allah Subahanahu wa Ta'ala. Barangsiapa yang merayakannya, berarti dia merayakan momen pengagungan dan penyembahan berhala. Padahal Allah Subahanahu wa Ta'ala telah mengingatkan kita dari perbuatan syirik:


وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. بَلِ اللهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang rugi. Karana itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur’.” (Az-Zumar: 65-66)
Allah Subahanahu wa Ta'ala juga menyatakan melalui lisan ‘Isa 'alaihissalam:


إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun." (Al-Ma`idah: 72)
Dan seorang muslim wajib berhati-hati dari syirik dan segala yang akan membawanya kepada syirik.
2. Awal mula perayaan ini di kalangan bangsa Romawi paganis terkait dengan kisah dan khurafat yang tidak bisa diterima akal sehat, apalagi akal seorang muslim yang beriman kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala dan para rasul-Nya.
Pada satu versi, disebutkan bahwa seekor serigala betina menyusui Romulus pendiri kota Roma, sehingga memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Ini menyalahi aqidah seorang muslim, bahawa yang memberikan kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran hanyalah Allah Subahanahu wa Ta'ala, Dzat Maha Pencipta, bukan air susu serigala. Dalam versi lain, pada perayaan itu kaum Romawi paganis mempersembahkan qurban untuk berhala sesembahan mereka, dengan keyakinan bahwa berhala-berhala itu mampu mencegah terjadinya keburukan dari mereka dan mampu melindungi binatang gembalaan mereka dari serigala. Padahal, akal yang sehat mengetahui bahwa berhala tidaklah dapat menimpakan kemudaratan, tidak pula bisa memberikan suatu kemanfaatan.
Bagaimana mungkin seorang berakal mau ikut merayakan perayaan seperti ini? Terlebih lagi seorang muslim yang Allah Subahanahu wa Ta'ala telah menganugerahkan agama yang sempurna dan aqidah yang lurus ini kepadanya.
3. Di antara syi’ar teruknya perayaan ini adalah menyembelih anjing dan domba betina, lalu darahnya dilumurkan kepada dua orang pemuda, kemudian darah itu dicuci dengan susu, dst. Orang yang berfitrah lurus tentu akan menjauh dari hal yang seperti ini. Akal yang sehat pun tidak bisa menerimanya.
4. Keterkaitan St. Valentine dengan perayaan ini diperselisihkan, juga dalam hal sebab dan kisahnya. Bahkan, sebagian literatur meragukannya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi. Sehingga pantas bagi kaum Nasrani untuk tidak mengakui perayaan paganis ini yang mereka tiru dari bangsa Romawi paganis. Terlebih lagi keterkaitan perayaan ini dengan salah satu santo (orang-orang suci dalam khazanah Nasrani, ed.) mereka, masih diragukan. Bila merayakannya teranggap sebagai aib bagi kaum Nasrani, yang telah mengganti-ganti agama mereka dan mengubah kitab mereka, tentu lebih tercela bila seorang muslim yang ikut merayakannya. Dan bila benar bahwa perayaan ini terkait dengan terbunuhnya St. Valentine karena mempertahankan agama Nasrani, maka apa hubungan kaum muslimin dengan St. Valentine?
5. Para pemuka Nasrani telah menentang perayaan ini karena timbulnya kerusakan akhlak pemuda dan pemudi akibat perayaan ini, maka dilaranglah perayaan ini di Italia, pusat Katholik. Lalu perayaan ini muncul kembali dan tersebar di Eropa. Dari sanalah menular ke negeri kaum muslimin. Bila pemuka Nasrani –pada masa mereka– mengingkari perayaan ini, maka wajib bagi para ulama kaum muslimin untuk menerangkan hakikatnya dan hukum merayakannya. Sebagaimana wajib bagi kaum muslimin yang awam untuk mengingkari dan tidak menerimanya, sekaligus mengingkari orang yang ikut merayakannya atau menularkannya kepada kaum muslimin.

Mengapa Kaum Muslimin Tidak Boleh Merayakannya?
Sebagian kaum muslimin yang ikut merayakannya mengatakan bahwa Islam juga mengajak kepada kecintaan dan kedamaian. Dan Hari Kasih Sayang adalah saat yang tepat untuk menyebarkan rasa cinta di antara kaum muslimin. Sehingga, apa yang menghalangi untuk merayakannya?
Jawaban terhadap pernyataan ini dari beberapa sisi:
1. Hari raya dalam Islam adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala. Hari raya merupakan salah satu syi’ar agama yang agung. Sedangkan dalam Islam, tidak ada hari raya kecuali hari Jum’at, Idul Fithri, dan Idul Adh-ha. Perkara ibadah harus ada dalilnya. Tidak boleh seseorang membuat hari raya sendiri, yang tidak disyariatkan oleh Allah Subahanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Berdasarkan hal ini, perayaan Hari Kasih Sayang ataupun selainnya yang diada-adakan, adalah perbuatan mengada-adakan (bid’ah) dalam agama, menambahi syariat, dan bentuk kurafat terhadap Allah Subahanahu wa Ta'ala, Dzat yang telah menetapkan syariat.
2. Perayaan Hari Kasih Sayang merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai) bangsa Romawi paganis, juga menyerupai kaum Nasrani yang meniru mereka, padahal ini tidak termasuk (amalan) agama mereka.
Ketika seorang muslim dilarang menyerupai kaum Nasrani dalam hal yang memang termasuk agama mereka, maka bagaimana dengan hal-hal yang mereka ada-adakan dan mereka menirunya dari para penyembah berhala?
Seorang muslim dilarang menyerupai orang-orang kafir –baik penyembah berhala ataupun ahli kitab– baik dalam hal aqidah dan ibadah, maupun dalam adat yang menjadi kebiasaan, akhlak, dan perilaku mereka. Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman:


وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imran: 105)


أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)? Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid: 16)
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad, 3/50, dan Abu Dawud, no. 5021)
Tasyabbuh (menyerupai) orang kafir dalam perkara agama mereka –di antaranya adalah Hari Kasih Sayang– lebih berbahaya daripada menyerupai mereka dalam hal pakaian, adat, atau perilaku. Karena agama mereka tidak lepas dari tiga hal: yang diada-adakan, atau yang telah diubah, atau yang telah dihapuskan hukumnya (dengan datangnya Islam). Sehingga, tidak ada sesuatupun dari agama mereka yang boleh menjadi saranan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala.
3. Tujuan perayaan Hari Kasih Sayang pada masa ini adalah menyebarkan kasih sayang di antara manusia seluruhnya, tanpa membezakan antara orang yang beriman dengan orang kafir. Hal ini menyelisihi agama Islam. Hak orang kafir yang harus ditunaikan kaum muslimin adalah bersikap adil dan tidak menzaliminya. Dia juga berhak mendapatkan sikap baik –bilamana masih ada hubungan silaturahim– dengan syarat: tidak memerangi atau membantu memerangi kaum muslimin. Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman:


لاَ يَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)
Bersikap adil dan baik terhadap orang kafir tidaklah berkonsekuensi mencintai dan berkasih sayang dengan mereka. Allah Subahanahu wa Ta'ala bahkan memerintahkan untuk tidak berkasih sayang dengan orang kafir dalam firman-Nya:


لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah: 22)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Sikap tasyabbuh akan melahirkan sikap kasih sayang, cinta dan loyalitas di dalam batin. Sebagaimana kecintaan yang ada di batin akan melahirkan sikap menyerupai.” (Al-Iqtidha`, 1/490)
4. Kasih sayang yang dimaksud dalam perayaan ini semenjak dihidupkan oleh kaum Nasrani adalah cinta, rindu, dan kasmaran, di luar hubungan pernikahan. Buahnya, tersebarnya zina dan kekejian, yang karenanya pemuka agama Nasrani –pada waktu itu– menentang dan melarangnya.
Kebanyakan pemuda muslimin merayakannya karena menuruti syahwat, dan bukan karena keyakinan khurafat sebagaimana bangsa Romawi dan kaum Nasrani. Namun hal ini tetaplah tidak bisa menafikan adanya sikap tasyabbuh (menyerupai) orang kafir dalam salah satu perkara agama mereka. Selain itu, seorang muslim tidak diperbolehkan menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita yang tidak halal baginya, yang merupakan pintu menuju zina.

Sikap yang Seharusnya Ditempuh Seorang Muslim
1. Tidak ikut merayakannya, menyertai orang yang merayakannya, atau menghadirinya.
2. Tidak membantu/mendukung orang kafir dalam perayaan mereka, dengan memberikan hadiah, menyediakan peralatan untuk perayaan itu atau syi’ar-syi’arnya, atau meminjaminya.
3. Tidak membantu kaum muslimin yang ikut-ikutan merayakannya. Bahkan ia wajib mengingkari mereka, karena kaum muslimin yang merayakan hari raya orang kafir adalah perbuatan mungkar yang harus diingkari.
Dari sini, kaum muslimin tidak boleh pula menjual bingkisan (pernak-pernik) bertema Hari Kasih Sayang, baik pakaian tertentu, mawar merah, kartu ucapan selamat, atau lainnya. Karena memperjualbelikannya termasuk membantu kemungkaran. Sebagaimana juga tidak boleh bagi orang yang diberi hadiah Hari Kasih Sayang untuk menerimanya. Karena, menerimanya mengandung makna persetujuan terhadap perayaan ini.
4. Tidak memberikan ucapan selamat Hari Kasih Sayang, karena hari itu bukanlah hari raya kaum muslimin. Dan bila seorang muslim diberi ucapan selamat Hari Kasih Sayang, maka dia tidak boleh membalasnya.
5. Menjelaskan hakikat perayaan ini dan hari-hari raya orang kafir yang semisalnya, kepada kaum muslimin yang tertipu dengannya.
(Diringkas dari makalah ‘Idul Hubb, Qishshatuhu, Sya’airuhu, Hukmuhu, karya Ibrahim bin Muhammad Al-Haqil)

1 Adalah upacara ritual kesuburan yang dipersembahkan kepada Lupercus (dewa kesuburan, dewa padang rumput, dan pelindung ternak) dan Faunus (dewa alam dan pemberi wahyu). Pada tahun 494 M, Dewan Gereja di bawah pimpinan Paus Gelasius I mengubah ritual tersebut menjadi perayaan purifikasi (penyucian diri). Dua tahun kemudian, Paus Gelasius I mengubah tanggal perayaan, dari tanggal 15 menjadi 14 Februari.

Adakah kita terlibat sama dalam hal ini??tepuk dada tanyalah iman.....mudah mudahan kita sentiasa di bawah petunjuk Allah Subhanahu Wataala...
 
By.Asa Dolphinjr

Perbedaan Pintar, Cerdas, Kreatif Dan Inovatif

Belajarlah seiring dengan hembusan nafas, berhenti belajar ketika nafas berhenti. Belajar juga yang akan membedakan seseorang bisa menyikapi kondisi yang sama dengan cara yang berbeda, tentu saja mendapatkan keuntungan dari kondisi paling merugikan sekalipun. Mengisi hidup yang penuh tidak hanya membutuhkan kepintaran, tapi juga kecerdasan, kreativitas dan inovasi. Apa bedanya?
Kepintaran adalah kemampuan Anda dalam menyerap informasi. Ketika Anda mampu membaca dan mengambil ilmu pengetahuan dari buku atau informasi yang Anda serap, Anda cukup pintar. Akan tetapi, kepintaran berhenti disitu saja. Orang pintar memiliki banyak pengetahuan, akan tetapi kadang menghambatnya dalam pengambilan keputusan, karena pengetahuan yang banyak itu memberikan banyak informasi.

Kecerdasan adalah kemampuan mengelola kepintaran. Orang yang sukses kadang orang yang tidak terlalu pintar, akan tetapi bisa mengelola orang pintar. Kecerdasan membuat Anda tahu siapa orang pintar yang cocok mengerjakan jenis pekerjaan tertentu. Kecerdasan membuat Anda bisa mengambil keuntungan dari kombinasi kepintaran.
Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat perbedaan. Orang yang kreatif adalah orang yang melihat hal yang sama tapi berpikir dengan cara yang berbeda. Kreativitas menghasilkan perbedaan dan orang yang kreatif bisa stand out of the crowd, tampil diantara kerumunan orang. Perbedaan membuat peluang baru terbuka.
Inovatif adalah kemampuan untuk menemukan nilai komersil dari kreativitas. Inovasi membuat kreativitas tidak cukup untuk meraih sukses. Kreatif hanya membuat perbedaan, inovasi membuat perbedaan tersebut memiliki nilai komersil.
Oleh karena itu, belajarlah seumur hidup, dan Anda bisa memiliki kepintaran, kecerdasan, kreativitas dan inovasi. Semuanya bukanlah bakat, akan tetapi disiplin. Tentu saja bisa dipelajari.

Minggu, 31 Januari 2010

Filosofi Laut, Pesan dalam Botol dan Anak Kecil

Filosofi Laut : Berpikir Luas Menghadapi Masalah
Sekitar bulan Mei sd. Juni 2009, awan mendung menyelimuti hati. Emosi yang meluap-luap membuat saya berkontemplasi dan bersedih setiap malam, mencari makna apa yang saya lakukan. Dalam benak saya, berpikir positif rasanya sudah saya lakukan, tapi kenapa semuanya menjadi tidak karuan? Pantai atau laut satu-satunya tujuan saya. Saya ingin mencari penyejuk dan menggairahkan kembali jiwa saya. Mendapat pesan dalam botol yang terapung, kira-kira itu harapan saya (kaya dongeng aja kan?). Pesan itu paling tidak bisa membuka mata saya, entah siapapun yang membuatnya dan apapun isinya. Sekalian, saya ingin melihat ciptaanNya lebih banyak lagi.
Tapi kenapa laut atau pantai? Saya teringat akan kata-kata mama saya : “Pandanglah laut ataupun pantai jika kamu merasa kecewa, kesal dan sedih. Tataplah deburan ombaknya yang menggulung ke arah daratan. Anggaplah ombak yang menuju ke daratan itu waktu yang akan menggulung semua kekesalan dan kesedihanmu yang terukir di pasir. Dia tidak akan menetap, selalu melangkah mundur, berganti dengan ombak lain untuk menghapus jejak pada pasir. Berpikirlah luas, seluas laut selebar pantai supaya kamu tidak berpikir picik dan sempit. Laut atau pantai bisa menjadi tempat untuk menjernihkan pikiran”. Filosofi yang sederhana untuk menyikapi hidup.
Berawal dari kekesalan dan kesedihan saya akan suasana di kantor, saya memutuskan untuk memanfaatkan hari libur dengan pergi ke luar kota. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya kemudian menerima email dari sebuah milis, yang isinya tentang tawaran untuk pergi menjelajah Ujung Genteng dan sekitarnya bulan Juli, dengan rute yang cukup menarik. Saya senang bukan kepalang. Refleks, wajah saya berseri-seri. Jadwal masih 1 bulan lagi, saya langsung menghubungi EO dan melunasi biaya. Hahaha…saya tidak kenal EO nya, tapi saya kok percaya saja ya? Tidak ada perasaan takut akan dibohongi. Berbeda dengan teman-teman saya yang lain, mereka ternyata menyelidiki sang EO, dengan bertemu terlebih dahulu, takut kalau uang mereka dibawa “kabur”. Ternyata, hati nurani saya tidak salah menilai orang, karena mereka orang yang baik.
Ini perjalanan saya yang pertama dengan orang lain, yang sama sekali tidak saya kenal secara personal. Teman-teman peserta 10 orang yang berasal dari mana-mana dan EO 2 orang yang baru kenal, tidak menyurutkan niat saya. Saya memang wanita, dan berpikir, saya harus berani, kenapa harus takut? Ada yang macam-macam, saya sikattt!!!Hehehe…Entah kenapa, saya percaya lagi, mereka semua baik-baik. Kalaupun saya tertimpa bahaya, saya pasrah saja. Alasan inilah yang membuat saya meminta maaf pada beberapa teman di kantor plus beberapa “wasiat”, dengan mengatakan saya akan keluar kota dan menembus bahaya yang bisa saja membuat saya tidak kembali. Maklum, ketika mereka tahu bahwa saya akan traveling ala semi backpacker, mereka nggak heran, karena selama ini mereka tahu bahwa saya bukan wanita manja dan tidak takut menjadi “black” alias item. Dan mereka mendoakan saya selamat. Hahaha…kalau teringat sekarang, lucu rasanya memandang wajah mereka ketika itu.
Berangkat menuju Ujung Genteng : Berharap menemukan Pesan dalam Botol
Perjalanan pertama tapi saya dibekali dengan panduan perangkat yang baik oleh EO. Berangkat jumat malam, berkenalan dengan teman-teman yang kebanyakan wanita. Aha…ini mengejutkan. Saya pikir selama ini yang suka bertualang, menjelajah daerah wisata yang baru hanya pria saja. Ternyata, saya salah. Dari 11 orang peserta, hanya 2 orang pria, dan salah satunya beserta istrinya (takut gimana-gimana kali ya?? Hehehe…). Malam berganti pagi, dan kami pun berkenalan secara alami. Mereka baik-baik, lucu dengan humor segar dan menyenangkan. Ah, indahnya berkenalan dengan mereka yang berasal dari profesi, ras, suku dan budaya serta agama yang berbeda-beda. Ada yang guru, pengusaha, akuntan dan marketing dsb menjadi satu keluarga : 11 at UG.
Menginap di sebuah penginapan yang dekat dengan pantai (kata sang EO, pantai nggak bernama tapi masih gugusan dari Pantai Aquarium).  Jadwal kegiatan sudah di susun. Tapi lagi-lagi, saya hanya merindukan pantai. Dari 2 pantai yang saya kunjungi, saya menyukai semuanya yakni pantai tak bernama dan pantai aquarium. Tapi yang sangat berkesan adalah “Pantai Tak Bernama”.
Pantai Tak Bernama. Persis di depan penginapan. Malam hari saya berjalan menyusuri pantai bersama beberapa teman. Hampir jam 12 malam, udara sedikit dingin. Menendang pasir dan melihat pantai yang kebetulan sedang surut plus memandang bulan. Indah nian. Saya sering termenung saat itu, memikirkan “beban” yang saya bawa dari pekerjaan dan membandingkan dengan keadaan pantai sambil mata berkaca-kaca. Bahkan, saya sampai ditegur dan diajak bicara terus sama sang EO yang telah menebak bahwa saya banyak pikiran (mungkin takut saya jadi terlalu sedih) hehehe…Untuk mengalihkan perhatian, saya mencari kepiting-kepiting kecil dan melihatnya berjalan. Lucu dan unik.
Esok pagi, sekitar jam 7, sebelum berangkat ke tempat wisata yang lain, saya dan beberapa teman kembali menyusuri pantai. Hari itu cerah sekali. Bersama teman yang lain, foto-foto narsis, mencari-cari sedikit bentuk unik hasil dari alam untuk di bawa pulang (ada yang mau ditaruh di aquarium, katanya). Berkali-kali saya tidak hanya berjalan di atas pasir, tapi berjalan dalam air. Merasakan air yang diterpa angin menjadi riak-riak kecil yang sungguh membuat senang. Celana pendek saya bahkan basah.
menyusuri
menyusuri
Sampai ke suatu tempat yang menurut saya pas untuk memandang bebas dan sengaja meninggalkan teman saya di belakang. Saya ingin Keheningan. Saya memandang hasil ciptaan yang Kuasa. Ah, indah nian. Bentuk syukur saya, hanya bisa berkata “Tuhan sangat baik”. Saya pasti akan ketagihan pergi traveling lagi (terbukti, perjalanan selanjutnya saya ke Ujung Kulon).
Kontemplasi saya dimulai di sini. Saya benar-benar menangis (air mata saya jatuh ke air, terbawa ke mana-mana), menumpahkan kekesalan dan kemarahan saya belakangan ini, di pantai itu. Sambil berbicara dengan Yang Kuasa dalam suasana hening, dalam hati mengingat-ingat kembali beberapa hal yang terjadi dan berusaha menjernihkan pikiran. Inti dari pengasingan saya beberapa hari adalah saya kesal dan tidak dapat membendung kesedihan saya. Terkadang saya menuntut orang mengerti (tanpa saya berkata-kata) bahwa saya telah berbuat sepenuh hati saya tanpa ada niat buruk, tapi ternyata saya salah. Mereka kadang tidak mengerti, malah mengartikan hal yang negatif. Saya telah mencoba memberikan pengertian, tapi tetap tidak dapat dicerna oleh mereka. Saya kalah, sangat kalah!!!. Saya kalah bernegosiasi dengan pikiran saya, saya tidak bisa mengendalikannya. Efeknya, saya lelah, makan tidak teratur dan menenggelamkan semuanya dalam rasa apatis.
Akhirnya, sampai di satu kesimpulan dan titik pencerahan, saya hanya berpikir Pertama : tetap berpikir positif terhadap masalah dan teman-teman saya. Kedua, Percaya dan Yakin bahwa semuanya akan berakhir dengan baik, apa yang telah saya lakukan akan berbuah manis sejalan dengan waktu” terhadap masalah dan teman-teman saya.  Sambil itu, mata saya tetap mencari-cari, adakah botol yang terapung dengan pesan di dalamnya? Nihil.
Bukan Pesan dalam Botol tapi Belajar dari Anak Kecil
Kontemplasi saya segera selesai karena saya merasa gemuruh di dada saya sudah “plong”, sejalan dengan teriakan teman saya untuk mengajak berfoto. Kami berjalan lagi menyusuri pantai. Eh, ada 4 orang anak kecil sedang bermain juga dengan air. Saya mengajak mereka berfoto. Saya percaya mereka masih anak-anak yang murni. Mereka malu-malu ketika saya ajak berfoto di atas karang kecil (di foto sama sang EO). Hahaha..mereka mungkin berpikir, “kok artis mau berfoto dengan saya” hahaha…narsis saya keluar. Saya bilang kepada mereka “ayo senyum…”nah, foto di atas adalah hasilnya. Ada satu anak yang saya pangku dan semuanya sukses senyum dengan manis dan tanpa terpaksa kan?
Pesan tidak saya dapati dalam botol, tetapi melalui wajah anak-anak yang bertemu dengan saya, karena ternyata, sampai kembalinya saya dari pantai, saya tetap tidak menemukan botol dengan pesan di dalamnya. Tapi saya menemukan pesan dari senyuman anak-anak itu. Mereka murni, polos dan lugu sekali, terbaca dari wajah mereka.
Pastilah, mereka bukan anak-anak yang berada, bisa jadi mereka adalah anak-anak nelayan. Tapi mereka bisa bergembira dengan keadaan mereka. Sedangkan saya? Saya kadang tidak bisa makan bukan karena tidak ada uang, tidak bisa tidur karena tidak ada tempat yang layak, tapi karena tenggelam dalam pikiran. Oleh karena itu, Saya belajar dari mereka : “Melakukan dengan keyakinan positif, Murni apa adanya dan Senyum”.
Saya bawa “pesan” itu ketika pada hari berikutnya saya kembali berkutat dengan pekerjaan. Langkah saya ringan, menebar senyum dan bercanda dengan sekitar saya, serta mengatur waktu untuk banyak hal. Saya lupakan yang telah terjadi, seolah tidak ada apa-apa dan saya menatap hari berikutnya. Waktu membuktikan semuanya. Hal-hal yang tadinya telah terjadi dan terasa menakutkan kini kembali normal. Saya hanya bisa tersenyum dan mengucap syukur untuk semuanya. Sekarang, hampir setahun sejak peristiwa itu, saya jadi terpikir untuk bertemu ke empat anak-anak itu atau anak-anak lain, memangku mereka kembali dan berfoto lagi.

ditulis oleh: 
Silveria Verawaty